Jodoh = Satu + Selamanya

“Wes, awakmu gak usah golek pacar. Golek jodoh ae,” kata Ibu’

 

“Enggeh,” aku cuma bisa bilang gitu.

 

Apalagi yang bisa kukatakan? Toh dari awal aku emang sama sekali gak tertarik untuk pacaran yang sekedar guyonan tanpa ada keseriusan. Aku lebih tertarik mencari jodoh daripada mencari pacar.

 

“Saiki awakmu wes gede. Ojok lali ndungo ben jodohmu cidek, ben ndang dipetukno. Ojok lali pisan ndungo ben jodohmu iku sholeh, sing bibit bebet bobote apik. Jodoh iku sak teruse ambek awakmu sampek mati. Makane ndungo’o mugo-mugo jodohmu tepak. Ojok pisan pindo nek ndungo, ben mari sembahyang iku ndungo’o,” kata Ibu’ku suatu ketika.

 

Sekali lagi aku cuma bisa mengangguk. Aku setuju dengan nasihat Ibu’ku. Jodoh adalah takdir Allah yang telah digariskan dan tak mungkin tertukar. Tapi sebagai manusia yang tak tahu bagaimana takdirnya, aku hanya bisa berdoa, memohon kepada Allah semoga jodohku adalah orang yang sholeh, yang bisa menjadi imam yang baik bagiku dan keluargaku, yang bisa membimbingku selalu di jalan Allah, yang mencintaiku karena Allah, yang setia padaku hari ini, esok, dan seterusnya hingga nanti saat kita mati.

 

Tiap kali melihat undangan pernikahan, aku selalu membayangkan kira-kira siapa laki-laki yang nanti namanya akan tertulis sebagai calon suamiku. Salah satu alasan aku gak mau pacaran adalah karena aku merasa belum menemukan orang yang cocok dan kualitatif sebagai calon pendamping hidupku.

 

Iya, pendamping hidup. Aku gak mencari seorang cowok yang bisa menjadi calon pacar yang menyenangkan. Diajak kencan tiap malam Minggu, diajak jalan-jalan tiap ada waktu luang, ditelpon tiap kangen, dan sebagainya, menyenangkan bukan?

 

Tapi aku gak mencari yang seperti itu. Aku mencari seorang pria yang bisa menjadi calon suami yang baik. Seorang pria yang sholeh, yang gak pernah lupa akan Tuhannya yang Esa. Pria yang mampu membimbing wanitanya agar selalu berada di jalan Allah. Yang mampu menjadi imam yang baik bagi keluarganya. Yang bisa bersikap adil dan bijaksana serta penuh tanggung jawab. Yang menjadi suami yang baik bagi istrinya dan ayah yang baik bagi anaknya.

 

Aku gak mencari seorang cowok yang memintaku menjadi pacarnya dengan nembak, “Aku suka kamu. Mau gak jadi pacarku?” ala anak sekolahan. Tapi aku mencari seorang pria yang memikirkan dengan matang bahwa aku layak menjadi calon ibu bagi anak-anaknya, lalu ia datang ke rumahku, meminangku pada keluargaku. Hingga pada akhirnya ia menjabat tangan Bapakku, mengucapkan ijab qabul dengan sungguh-sungguh bahwa ia menerima nikah dan kawinku dengan seperangkat mahar tertentu yang telah disepakati.

 

Pria itu bukan sekedar pria tampan sehingga gak memalukan ketika bersanding denganku di pelaminan. Bagiku, ketampanan fisik hanya bersifat sementara. Yang terpenting adalah ketampanan hati. Oleh sebab itu, aku selalu berdoa agar calon suamiku adalah orang yang tampan hatinya, luhur budi pekertinya, baik akhlaknya, kuat imannya, dan teguh pendiriannya.

 

Pernikahan bukan hubungan main-main seperti pacaran, yang ketika putus tinggal cari lagi yang baru. Tapi pernikahan adalah suatu ikatan sakral yang dijalin atas nama Allah. Karena pernikahan adalah sakral, maka aku gak ingin menikah dengan sembarang orang. Hidup kita bukan komputer yang ketika salah, tinggal klik ‘undo’. Sekali kita salah melangkah, maka bisa fatal akibatnya. Oleh sebab itu, jangan sampai kita salah dalam mengambil keputusan.  

 

Pun demikian dengan aku. Menikah hanya sekali, maka aku gak ingin salah pilih. Calon suamiku adalah orang yang nantinya akan menua bersamaku. Ia adalah orang terakhir yang kulihat sebelum tidur dan orang pertama yang kulihat saat aku terbangun. Aku gak ingin terlelap dan terjaga bersama orang yang gak tepat.

 

Jika kita ingin mendapatkan buah yang manis, maka kita harus menanam biji pilihan dan merawatnya dengan baik. Sama halnya denganku. Karena aku ingin mendapatkan calon suami yang terbaik, maka aku pun harus berbenah diri agar aku juga menjadi yang terbaik baginya. Seperti sebuah status yang ditulis oleh salah seorang teman FB, “Kalau pengen dapatnya yang baik, syaratnya ya jadikan baik dulu diri sendiri.” Semoga kita semua dipertemukan dengan jodoh yang terbaik oleh Allah. Amin🙂

About chyztha

i'm a woman who has goals, idol, and guidelines for living | my goals : ALLAH | my idol : Prophet Muhammad SAW | my guidelines : Al-Quran and Hadith

Posted on July 17, 2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: